Showing posts with label cinta dan pernikahan. Show all posts
Showing posts with label cinta dan pernikahan. Show all posts

Saturday, January 29, 2011

PATAH HATI SEMALAM

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh…

**Putus Sama Pacar, Tapi Kok Masih Keingat-ingat Ya..Gimana donk?Pernah putus “cinta” (baca: putus dari pacar)?? Kalo iya…”kacian deh kamyuuu..:)”.. :p


Ups..sorry..bukannya ga’ berempati, tapi beneran..”kasihan” deh kamu-kamu yang pernah ngerasain putus sama pacarnya :). Makanya..dibilangin jangan pacaran, kamu tetep bandel sih. Coba kalo kamu ga bla..bla..bla………………………
Tapi “it’s OK lah”..:) anggap saja hal itu sebagai kegagalan yang mesti kamu-kamu perbaiki. Kalo udah pernah mengalami jangan mencoba lagi, bagi yang belum mengalami jangan coba-coba :).**

Yupz... itulah sepenggal nasihat dari seorang teman saya untuk teman yang lain. Baru saja ia meninggalkan dunia kejahiliyahannya. Dulu dia pun pernah mengalami proses-proses tidak syar'i yang bernama PDKT, HTS, dan PACARAN. Dan alhamdulillah sekarang seiring dengan kesadarannya sebagai muslimah yang ahsan dan menjaga maruah. Dunia itu satu persatu ia tinggalkan. Subhanallah...
Memang betul kan?!

Ketika para aktivis pacaran itu ditanya tentang keseriusan mereka untuk merit, mereka pasti bilang, “Lihat aja nanti deh, yang sekarang kita jalanin aja dulu.” Kok mau sih digombalin sama pacar ? Apalagi mereka masih mengenakan putih-abu abu, putih biru dan ada juga yang putih merah, mana bisa mau dan siap nikah cepet-cepet. Artinya itu sudah sejak awal bikin peluang besar untuk putus dan berlinangan air mata. Iya kan?!
Sedangkan Islam tidak pernah mengajarkan yang namanya aktifitas pacaran. Dan itu berarti Islam memperkecil volume patah hati yang memang perih sekali jika dirasakan.

Bicara soal patah hati, pasti tidak akan lepas dari yang namanya cinta. Kalo sudah bicara soal cinta, maka ceritanya panjang seperti rel kereta api Semarang-Jambi (emang ada ya Semarang-jambi by Train, hohoho) Dari awal mula manusia diciptakan sampe nanti hari kiamat, cerita tentang cinta tidak akan pernah bosan diperbincangkan dan tidak akan pernah hilang ditelan zaman. Cerita cinta memang tidak selamanya indah. Kadang ada yang berakhir dengan tawa, ada juga yang berakhir dengan linangan air mata. Dan patah hati adalah salah satu ending dari cerita ini. Yup. Bad ending. Hikz...hikz... T_T

Bukan hanya di dalam dunia pacaran saja, tetapi untuk para ikhwah yang pernah mengalami patah hati karena ditinggal pasangan taarufnya, untuk itulah saya menulis ini. Agar adil dan tidak terkesan munafik bahwa seorang akhwat atau ikhwan tidak bisa patah hati karena keimanan mereka tidak di ragukan dan kecintaan mereka yang katanya hanya untuk Sang Rabb sang Maha Cinta.
Eits, Siapa bilang?! Mereka juga manusia biasa yang juga bisa mengalami pasang surut iman seperti gelombang di lautan lepas yang kadang naik kedarat kadang pula lepas ke tengah perairan.

Patah hati adalah hal lumrah yang di alami tiap-tiap manusia. Disaat kita sudah yakin dengan seseorang bahwa dialah yang selama ini di idamkan menjadi pasangan jiwa sehidup semati, menyelesaikan separuh usia dalam biduk rumah tangga. Namun berbeda dengan dirinya yang ternyata tak mengehendaki kita untuk menjadi pendamping yang menemani hari-hari istimewa sebagai istri maupun suami.
Jangan biarkan sindrom patah hati menguasai diri kita,berikut ada beberapa tips mengurangi dampak patah hati :

1. Jangan mendramatisir keadaan
Di saat sedang patah hati, tak perlu terlarut terlalu dalam. Hindari suasana yang membuat kita menjadi mellow atau melankolis. Jangan mendengarkan lagu-lagu dengan tema patah hati, seperti Pupusnya Dewa atau Padihnya lastchild. Atau melakukan aktifitas lain yang malah bikin sesak hati. itu sama saja menaburkan garam di atas luka. Perih.

2. Putus asa itu dosa
Ingatlah bahwa berputus asa itu dosa. Rasulullah SAW bersabda : “Dosa besar itu adalah mempersekutukan Allah, putus asa dari karunia Allah dan putus harapan dari rahmat Allah.” (HR. Al Bazzar dan Thabrani)

3. Berhenti memikirkan si dia, don’t be alone !
<span>Jangan buang-buang waktu memikirkan seseorang yang saat ini kemungkinan besar sedang berbahagia bersama orang lain, dan sama sekali tidak memikirkan kita</span>
<span>Alihkan pikiran dan fokus kepada hal lain. Ujian yang di depan mata, misalnya. Sediakan diri 100 persen untuk siap men-</span><span>support</span><span> keluarga. Habiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman. Sebisa mungkin lawan keinginan untuk bersendirian yang akan membuat lebih nelangsa.</span>

4. Perbanyak kegiatan positif
Bayang-bayang itu semakin sering muncul apabila kita sering menyendiri. Agar tidak keseringan menyendiri, kita harus sering bergerak melakukan aktifitas-aktifitas bermanfaat seperti menulis, membaca, bersilaturahmi membantu kegiatan sosial, mengajar dll. Atau kegiatan yang paling positif adalah mengkaji tentang Islam, dan gabung dengan aktifitas dakwah. Insya Allah bisa menghilangakan pahitnya patah hati, karena Islam itu lebih keren dari yang kita duga. :)

5. Bersyukur, berusaha dan doa
Kalau putus dari pacar, itu berarti terbebas dari perbuatan mendekati zina. Harusnya kita bersyukur. Kalo memang sudah siap nikah, nikah aja ngapain pacaran. Buktiin keseriuasan kita. Kalo belum siap, ya jangan dipaksain nikah. Buat yang ditolak saat melamar, itu tandanya Allah ngasih tahu bahwa akhwat/ikhwan itu tidak matching sama dengan kita. Anda belum beruntung. Coba lagi. Dan jangan lupa berdoa karena Allah pasti akan kasih jalan keluar yang terbaik untuk kita semuanya.

6. Patah hati semalam
Yang terakhir adalah, patah hati boleh. Asal pertegas dalam diri kita, hanya satu malam. Tidak boleh lebih. :) Dan besok pagi, usahakan kita bangun dengan semangat baru, mimpi dan harapan baru pula.

Cinta itu hanyut bagi orang yang hanyut.
Cinta itu teguh bagi orang yang teguh.
Jangan biarkan kegagalan cinta menghanyutkan iman kita akan janji Allah tentang pengganti yang jauh lebih baik.
Patah hati hanya boleh terjadi dalam 1malam.


Silakan mencoba ! semoga bermanfaat,


Wasalam
With love by : UmmyNisa

Thursday, December 23, 2010

Hari Ini Baru Kubisa Mengikhlaskanmu

Desember 2008, ketika itu usiaku baru 19 tahun berjalan. Seorang pria dewasa berumur 31 tahun datang kerumah dengan maksud mengutarakan keinginannya untuk menikahiku kepada ayah. Namanya kuncoro, oleh guru SMK aku dikenalkan padanya awal oktober di tahun yang sama.
Suatu hari aku datang ke SMK tempatku dulu menjemput ilmu kejuruan di bidang sosial selama tiga tahun. Disana aku bertujuan ingin mengambil transkrip nilai yang masih tertinggal, Ibu Erni guru bahasa Indonesia yang terkenal ramah dan bersahabat kepada semua anak didiknya seperti biasa dengan sikap kocaknya menyapaku akrab. “ummy kuliah dimana sekarang kamu nduk?”
Aku hanya menjawab dengan senyum tipis, Tak ada satu katapun terlontar dari mulutku. Mbak Elly staf tata usaha kemudian ikut menyahut. “ummy gak kuliah bu … buktinya nih transkrip nilainya baru di ambil sekarang, kan dia lulus tahun lalu(2007), mau ijabsah aja” katanya.
Kontan mataku terbelalak dan senyum di bibir yang sedari tadi dikulum lidah menjelma tawa renyah yang memenuhi seisi ruang TU. Semua yang ada di ruang itu pun ikut menyahut dengan berbagai macam canda yang makin tak karuan mendesak tawaku untuk lebih melebar.
Sekitar Lima belas menit berselang urusanku selesai di ruang TU, beberapa lembar kertas administrasi sudah kububuhi dengan paraf tanda selesainya kewajiban dan hak yang harus kupenuhi. Kemudian setelah itu sengaja melepas penat disiang hari terik dengan beristirahat di kantin sekolah. Hanya ada sebotol teh manis dingin yang menemani dudukku di meja kantin yang masih sepi. Karena memang blm waktunya istirahat.
Tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara tangan yang menepuk pundak. Dan ketika aku menoleh ada sesosok wajah ceria yang mengulas senyum teduh dibalik seragam PSH dan jilbab warna abu-abu..
“Eh…bu erni, ngagetin aja nih. Kok gak ngajar Bu?”
“Abis kamu siang-siang gini melamun, ya wis tak sadarin dulu biar gak keburu hantu nyamber kamu nduk... Hihihi…! ibu gak ngajar. Jadwalnya hari ini Cuma kebagian jam pertama tadi.”
“oh.. gitu ya?, hehe saya gak nglamun Bu, Cuma menikmati detik-detik air dingin membasahi kerongkongan saya yang sedari tadi meronta haus.”
“walah… saking nikmatnya, eh nduk. Kamu beneran pengen nikah muda? Ibu ada calon buat kamu.dia ikhwan sholeh lho. Instruktur bahasa jepang yang sekarang berdomisili di Bekasi”

Glek…** ternyata gurauan itu berlanjut serius. Awalnya aku tak menanggapi tawaran menikah dari beliau. Tapi seminggu kemudian aku mengambil keputusan untuk mengiyakan tawaran itu. proses pun dimulai, saling tukar biodata dan foto masing-masing, kemudian sampailah kepada pertemuan di pertengahan desember 2008. Di ruang tamu rumah ayah mengiyakan proses kami berjalan apa adanya. Satu bulan setelah pertemuan komunikasi kami masih berjalan lancar. Posisiku waktu itu hanya menunggu dia mendapat persetujuan dari orang tuanya yang tinggal di Cilacap.
Hampir dua bulan aku menanti dalam ketidakpastian. Lama-lama aku sendiri merasa risih menanyakan dirinya kepada Bu Erni. Aku terus mencoba mengerti keadaan keluarganya yang katanya waktu itu sedang ada masalah. Aku diminta bersabar dan memberi waktu beberapa bulan untuk dia menyelesaikan masalah keluarganya. Aku maklumi kondisinya waktu itu. seringkali dia berbagi kepadaku tentang masalah-masalah yang tengah melanda keluarganya. Aku terus bersabar dan memberi ruang untuk dia meluapkan segala keluh kesah bahkan amarah sekalipun. Seakan-akan aku ini sudah menjadi istrinya secara tidak langsung karena saking seringnya dimintai pendapat dan di ajaknya bertukar pikiran. Kami seringkali terlibat diskusi-diskusi kecil. Tapi mungkin karena agak berfrekuensi tinggi, sepertinya hubungan sudah tidak lagi bernilai syar’i.
Dan aku sadar apa yang sudah aku lakukan. Meski aku dan dia tidak pernah bertemu setelah pertemuan di pertengahan Desember itu. Namun komunikasi kami Via sms dan telepon cukup melebihi batas karena kelewat dekat. Aku ingat waktu itu kira-kira setiap seminggu aku di telepon olehnya, atau sesekali aku yang menghubungi dia. Setiap hari meski hanya satu sms tapi pasti selalu ada ucapan “ohayo gozaimatsu” di layar perak ponsel nokia ‘jadul’ milikku dimasa itu. kalo bukan dari mas kuncoro, yah dari siapa lagi?!

Waktu pun kini semakin memaksaku untuk menanyakan kembali khitbah yang sudah terhitung bulan ia jatuhkan. Sementara ada sesosok lagi pangeran yang ingin mengutarakan niatnya meminangku kala itu. ah…benar-benar dibuat bimbang diriku olehnya.
Suatu ketika mas kuncoro bercerita mengenai adik kesayangannya. Adiknya telah menjadi pemuda mapan dan mandiri bekerja di sebuah perusahaan swasta di jakarta. Sebagai seorang kakak yang merasa pernah menyekolahkan adiknya, membiayai segala keperluan adik-adik dan seluruh keluarganya, dia patut merasa bangga dengan pencapaian yang telah di raih oleh sang adik sebagai bukti bahwa kakaknya tidak sia2 membiayai selama ini. Cerita tantang kebanggan adiknya itu seperti tak pernah padam dan terus menjadi motivasi bagi dirinya untuk berusaha lebih keras membahagiakan seluruh keluarga yang ia kasihi. Sampai ketika musibah itu datang dan mengubah segalanya, termasuk proses ta’arufku dengan mas kuncoro. Adiknya mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan nyawanya melayang. Semakin beratlah beban masalah yang ia hadapi. Dan pada suatu hari ibunya mengungkapkan sebuah permintaan yang menurutku sangat melukai perasaanku sebagai wanita biasa yang masih lemah iman dan dhaif ini. Apa rupanya permintaan ibu mas kuncoro itu?
Almarhum adik mas kuncoro ternyata sudah lebih dulu memiliki calon istri sebelum dirinya. Dia mulai menceritakan alasan mengapa dia tak kunjung memberi keputusan atas proses kami. Satu hari setelah kepulangannya dari semarang ke cilacap yang dalam rangka mengkhitbahku, dia bermaksud mengutarakan keinginannya untuk melamarku kepada ibundanya. Namun jawaban dari sang ibu terkesan acuh. Beliau tidak menghendaki mas kuncoro menikah dengan wanita yang berasal dari daerah yang jauh. Itu alasan beliau yang sungguh tidak masuk di akal. Padahal Semarang dan Cilacap masihlah dekat menurutku karena masih dalam satu provinsi. Sedang mas berada di bekasi. Ah.. bagiku tak masalah aku ikut kemanapun suami pergi dan mengajakku tinggal bersama kelak setelah menikah.
Jawaban ibu yang terkesan acuh itulah yang ternyata membuat dirinya bimbang dan mengurungkan niatnya untuk secepat mungkin menjemputku. Dia tak sampai hati aku mendengar kabar itu karena dipikirnya aku akan bersedih karenanya, atau mungkin dia merasa takut jika aku mendengar, maka aku akan meninggalkannya.
Entahlah, toh pada akhirnya dia tetap menceritakannya padaku plus satu kejutan lagi yang tak kalah membuat darahku berdesir, menyayat hati dan sangat melukai. Ibunya malah menawarkan mas kuncoro untuk menikahi calon istri almarhum sang adik. Dengan alasan perempuan itu sudah sangat dekat dengan keluarganya, ibunya lebih mengenal dia dibanding aku yang sama sekali tak pernah bertemu dan bertatap muka.
Yah… akhirnya aku mengetahui apa yang seharusnya kulakukan untuk proses ini. Mengharapkan ketegasannya adalah sesuatu yang jauh dari mungkin. Dia teramat mencintai ibu dan keluarganya lebih dari apapun di dunia ini.
Pertengahan Febuari 2009, akhirnya dengan mengenggam sejuta maaf yang tak terkatakan, menahan asa yang tak berkelanjutan, menoreh perih pada sekeping hati kecil nan kotor ini. Tengah malam sebelumnya aku bermunajah mengikhtiari prosesku dengan dirinya untuk terakhir kali. Karena pagi harinya dengan bibir kelu aku sampaikan niatku, bahwa aku memutuskan untuk mundur serta mengikhlaskan dirinya untuk menikah dengan siapapun yang terbaik untuk dia dan keluarganya. Tak perlu lagi dia menggantungku dengan sejuta asa semu yang sebenarnya dia sendiripun tak punya keberanian dalam bertindak dan memutuskan yang terbaik untuk hidupnya sendiri.
Allah jika wanita adalah lambang kedukaan, maka haruskah aku mengibarkan lambang duka itu dengan airmata yang mengalir deras mengguyur basah di pipi?!
Cinta adalah sebahagian dari keajaibanMu, kemurahanMu yang Maha memberi jawaban dari segala sedih yang menawan jiwa. Merajai kolbu dengan desir-desir harapan yang entah wujud atau hanya sebatas kamuflase.
Aku berserah atas nama Sang Maha Cinta. KepadaMU kutitipkan hati yang terkoyak ini untuk di perbaiki.
**Bersambung dulu yah… ingin sejenak memenuhi hak mata nih.. sambung beberapa hari lagi. Semoga masih berkenan membaca.
-Ummy Annisa-

Tuesday, November 9, 2010

Ketika Engkau Memilihku Sebagai Maharmu

Semarang, 9 November 2010, 23.43

“Dia telah menikah pada awal oktober lalu”
wahai wanita yang telah di pilihkan Allah untuknya, hatimu sangat mulia di penuhi niat baik untuk menyambung ukhuwah yang terlanjur terjalin di antara kita. Namun kau harus tau, aku ini wanita biasa yang lemah pendirian dan mudah berbalik hati. Kedatanganmu bukan tak mungkin menoreh luka lama yang susah payah ku keringkan selama 8 bulan berjalan.
Maafkan aku yang sedikit mengacuhkan keberadaanmu di sini. Bukan aku tak mau mengenalmu ya Ukhti… tapi apakah suamimu ridho jika saja Ia tau istrinya berada di sisiku sekarang???
Jangan sibukkan dirimu dengan mencari ridhoku atas pernikahanmu dengannya. Tetapi sibukkanlah dirimu untuk mengabdikan segenap cinta dan kasihmu yang lebih utama kepada dirinya, karena ada Ridho Allah beserta pelukannya yang siang malam memang sudah halal bagimu.
Wahai wanita yang insyaAllah di murahkan Rizki dan di panjangkan umur karena memperjuangkan silaturahmi. Aku mempersilakan dirimu kembali kepada suami dan memberikan maaf yang engkau minta.
Wahai wanita yang lembut hatinya, tolong hentikan permintaanmu yang membuatku gusar dan memenuhi lubang telingaku. Aku ini sudah menjadi dindamu semenjak awal kali kau mengenalku, lalu apalagi yang engkau mintadariku?!
Memaksaku untuk mau menjadi adikmu dengan menjadi istri kesekian bagi suamimu?!
Allahu Rabbi…
Aku terenyuh mendengar pintamu memang, beribu terimakasih dan kebanggaan atas keikhlasanmu menyediakan diri untuk di poligami. Tapi maaf kak, aku tak bisa menjadi jaminan untuk kebahagiaanmu,kebahagiaanku, kebahagiaannya, dan kebahagiaan kita bertiga.
Jangankan sekarang kau tawarkan lagi padaku, dulu… saat dia mengkhitbahmu kau menjadikanku sebagai mahar bukan?
Dulu dan sekarang tiada berbeda, aku tetap tidak berkenan menjadi ‘saudarimu’ dalam hal ini.
Aku punya kehidupan sendiri yang jauh lebih indah dengan bahasa yang lebih bisa ku maknai. Denganmu aku seperti berada di atmosfir planet lain, aku tak bebas memijakkan kaki. Aku pasti merasa tak bebas pula mengaktualisasi diri. Karena jiwa yang mau tak mau terjajah rasa sakit dan kekotoran benci.
Melupakan kalian jelas tidak mungkin kecuali aku di landa amnesia berat yang merusak memori otakku. Mengacuhkanmu terasa dzolim dan terkesan tidak berperasaan. Lalu ku putuskan dengan menghindarimu sejauh mungkin. Sampai aku pun mendapatkan seorang pengganti.


~Ummy Annisa~

Sunday, October 24, 2010

Senyum Dinda (Istriku yang tersayang, I Love You Just the way you are.” )

Pagi ini... wajah manismu menyapaku halus. Senyummu masih sama seperti enam tahun lalu. Kacamata minus itu tak menutupi mata teduhmu kala membangunkanku tiap pagi. Dinda... oh...Dinda... tak terasa enam tahun sudah kita berlarung menjelajah samudra rumah tangga dengan bahtera cinta. Kau telah memberiku dua jundi kecil yang lucu-lucu, cerdas dan mereka berdua tampan sekali seperti abinya. Aku tersenyum-senyum sendiri mematut menghadap cermin kala membandingkan wajahku dengan anak-anakku yang lahir dari rahimmu tapi mereka mirip aku.

Waktu sarapan telah tiba. Ritual pagi seperti ini yang seringkali membuat kekagumanku padamu kian hari kian bertambah. Dengan cekatan kau lakukan semuanya sendiri dengan tanganmu, kau tak mau membiarkan tangan orang lain menyentuh pekerjaan rumah dan segala persiapan untuk suamimu. menyiapkan sarapan di meja makan adalah rangkaian pekerjaan terakhir setelah sebelumnya kau rapikan lipatan bajuku dengan panasnya setrika cintamu. Dinginnya air kau hangatkan pula dengan sentuhan cinta untuk suamimu ini mandi. Tak lupa anak-anak kita, sebelum keberangkatannya ke sekolah dan playgroup. Kau membuat mereka agar setampan abinya. (hihihi...lagi-lagi aku tersenyum)

Tepat pukul 7.30, aku dan kamu siap memburu waktu menuju kantor yang kebetulan kita satu atap. Setelah sebelumnya kita antar si sulung dan bungsu kita ke tempat mereka belajar masing-masing di sekolah yang berbeda. Eitz.. tapi kok ada yang lupa ya...
“Sepertinya ada yang masih mengganjal dihatiku pagi ini Dinda...”
“Apa kak? Adakah yang terlupa? Biar Dinda ambilkan kedalam” sembari memberikan tas kerjaku langkahmu seperti siap berbalik arah menuju pintu rumah yang baru saja kau tutup dan menguncinya. Aku tak membiarkanmu begitu saja berlalu. Ku tarik tanganmu kemudian kuhadapkan tubuhmu menghadapku. Aku menatap matamu dalam-dalam, sementara tanganku menggenggam tangan lembutmu dengan sangat erat. Tak peduli anak-anak kita menunggu abi dan umminya di ambang pagar rumah kita. Kemudian aku berkata...
“aku lupa memandang senyum manis istriku pagi ini” kataku memuji.
Kamu tersenyum “kakak tebak sudah berapa lama kita menikah?”
aku tergagap sebentar... melongo, lho kok nanya itu. Hatiku membatin kemudian menghitung dalam diam sesaat aku berpikir perasaan baru kemarin aku datang kerumahmu di temani seorang ustadz, menyatakan bahwa aku ingin menjadikanmu sebagai istriku. Lalu proses kita berjalan, keluarga besar kita dikumpulkan untuk menyaksikanku berucap ikrar ‘aku terima nikahnya dengan mas kawin sebagaimana tersebut tunai." kataku cuek sembari menatap anak-anak kita dengan senyum berharap mereka mau sedikit bersabar menanti Abi dan Umminya yang sedang sibuk merajut tangkai-tangkai bunga cinta di pagi ini.
Kamu tertawa. Wuih...manis sekali. Mungkin bila kopi yang kusruput tadi pagi terasa kurang manis di lidah, cukup ku pandangi wajahmu Dinda. “kita sudah lebih dari lima tahun menikah kak” katamu sambil memandang si sulung kita yang kini telah berusia lima setengah tahun.

Perjalanan ke kantor terasa begitu syahdu. Aku beruntung selalu di temani istri sepertimu. Tak terbayangkan jika dirimu suatu saat mendahuluiku menghadapNYA. Aku ingin aku lah yang terlebih dulu melepas nikmat dunia dengan kematianku di pangkuanmu Dinda. Sungguh, aku tak sanggup jika aku yang melihatmu terbujur kaku. Ah... aku terlalu pengecut berpikir. Tapi begiitulah manusia seharusnya mengingat Allah tak hanya pada masa-masa sulit. Tapi di tengah kebahagiaan pun kita harus mengingati mati yang selalu mengintai kemanapun jiwa ini terbawa.
Aku kembali menengok kearahmu. Hmm... masih tetap cantik, tak berubah. Syukurlah...sayang waktu tak berpihak padaku untuk lebih lama menikmati kecantikanmu.

Sesampainya di kantor. Dari dalam ruang kerjaku. Sekilas, ketika tatapanku melongok keluar memandang tumbuhan, bangunan dan manusia yang tidak beraturan dan sangat berantakan, menyelinap dedaunan kehidupan enam tahun lalu. Ketika tarbiyah menyentuh dan menanamkan ke hati sebuah tekad untuk menyempurnakan Dien. Bahwa  Allah akan memberikan pertolongan. Bahwa rezeki akan datang walau tak selembar pun kerja kugeluti saat itu. Bahwa tak masalah menerapkan prinsip 3K (Kuliah, Kerja, Kawin).


Sungguh, kala itu kupikir hanya wanita bodoh saja yang mau menerimaku, seorang jejaka tanpa harapan dan masa depan. Tanpa kerja, apalagi punya perusahaan. Tanpa deposito dan orang tua mapan. Tanpa selembar modal ijazah sarjana yang saat itu sedang kukejar. Tanpa dukungan dari keluarga besar untuk menanggung biaya-biaya operasional.

Subhanallah, nekad sekali wanita satu ini. Mau saja diajak berkelana tanpa bekal di tangan yang cukup oleh seorang laki-laki yang belum kenal betul. Aku bukan pacarmu. Kau juga bukan pacarku. Ibarat mengarungi lautan, kau dan aku hanya punya sampan
Yang ada hanya sejumput tekad untuk menyempurnakan dien dan setangkup keyakinan bahwa Allah pasti akan bersama kita. Keyakinan itu yang semakin hari semakin berevolusi dan menjadi realitas. Sesuatu yang kalkulatif memang tidak menjadi jaminan. Sesuatu yang terpikir oleh rasio dan sel-sel otak kita tidak selamanya menjadi kenyataan, termasuk ketakutan dan kecemasan. Sungguh, doesn’t make a sense bila berpikir bagaimana kapal itu bisa dikayuh.

Ternyata, memang benar. Allah akan menjamin rezeki seorang yang menikah. Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Walaupun tetap semua janji itu muncul dengan sunatullah, kerja keras. Dan, Kerja keras itu terasa nikmat dengan doa dan dampingan seorang wanita yang rela dan ikhlas menjadi istriku dialah dirimu Dinda.
JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur 32) ...

Aku berceloteh sendiri dalam diam.
Aku akan selalu ingat kata-katamu bahwa perhatian kecil yang diberikan pada saat yang tepat akan menumbuhkan cinta yang besar.
Istriku cantik sekali pagi ini. Maafkan. Bila selama ini aku berpikir kata-kata itu tak bermanfaat untuk di ungkapkan. Aku memang terlalu rasional, monoton, kurang dimensi, pragmatis dan terlalu realistis
Aku tahu kau menyimpan kekecewaan. Untunglah, kau bijak. Kekecewaan itu tak pernah membesar. Kamu selalu bisa mengembalikan semua keceriaan itu dengan seulas senyum yang menyelinap dibalik penat dan kelelahan. Kamu selalu berkata, “kak, I Love You Just the way you are.”
Doakan aku untuk bisa mengembalikan kembali puing-puing perhatian yang merepih ini menjadi sebuah kekuatan untuk bisa mencintaimu karena Allah. Please, berikan aku kesempatan untuk bisa terus bersamamu till death do us part.




*Sebuah catatan untuk umminya Azam...
sembari menanti kedatanganmu ke Jawa (Semarang). Hihihi maafkan jika tak sesuai. Namanya juga ngarang. Yang pentingkan pesannya.
Jangan takut menikah...!! ^_^